Raih Sukses Lewat Imajinasi

Posted in Pengetahuan Umum on Juni 10, 2017 by serigalaputih

Menurut Cypert, orang yang tidak punya imajinasi seringkali mengalami hidup yang monoton. Ia selalu melewati jalur hidup yang itu-itu saja tanpa variasi berarti. Orang yang ‘miskin’ imajinasi tidak pernah berpikir untuk mencoba jalan lain ataupun berspekulasi melewati jalan yang baru sama sekali. Akibatnya, berkembang perasaan pesimis dan apatis terhadap tujuan hidup. Akhirnya jalan menuju sukses pun semakin buntu. Baca lebih lanjut

Mencari Makna Kehidupan

Posted in Pengetahuan Umum with tags on Januari 30, 2013 by serigalaputih

“Kehidupan yang tak teruji bukan kehidupan yang berharga bagi seseorang”, demikian Plato mengutip kata-kata dari Socrates di dalam bukunya Dialogues dan Apology. Baca lebih lanjut

Metode Eksperimen

Posted in Pengetahuan Umum on November 6, 2009 by serigalaputih

A.    Pengertian Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode yang dipergunakan oleh penyelidik terhadap obyeknya dengan jalan mengadakan eksperimen-eksperimen. Digunakannya metode eksperimen, jika penyelidik ingin menemukan kebenaran atas pendapat-pendapat orang lain tentang sesuatu. Baca lebih lanjut

Indonesia Belum Merdeka

Posted in Artikel on November 6, 2009 by serigalaputih

Benarkah Indonesia sudah Merdeka? Menurut saya, Indonesia baru “Merdek”. Negara ini belum melengkapi “a” sebagai bentuk ekspresi kebebasan untuk bersuara lantang. Kemerdekaan di sini masih tersekat di kerongkongan. Mulut belum bisa dengan lepas meneriakkan “merdeka” dengan mulut terbuka. Ada banyak masalah yang menyumbat untuk bangsa ini bebas berteriak MERDEKA. Baca lebih lanjut

Shalat Qadhaan

Posted in agama Islam on Juli 4, 2009 by serigalaputih

S: Saya telah meninggalkan banyak shalat dan saya berkeinginan untuk meng-qadha’-nya, apakah saya lebih baik menyibukkan seluruh waktu saya dengan meng-qadha atau saya juga melaksanakan shalat-shalat sunah dan meng-qhada shalat yang telah saya tinggalkan dengan sekedar kemampuan saya?
J:  Para Imam yang empat sepakat bahwa meng-qadha shalat itu wajib dengan segera, apabila ketinggalannya tanpa udzur. Akan tetapi ada 3 keadaan yang dikecualikan Imam Syafi’I tentang bersegera ini.
Pertama, apabila ingat shalat yang ketinggalan tersebut pada waktu khutbah Jum’at, maka wajib melambatkan qadha’an sampai selesai shalat Jum’at.
Kedua, apabila waktu shalat pada saat itu sempit, sekiranya tidak sempat mengerjakan shalat pada waktu itu apabila melaksankan qadha’an
Ketiga, apabila ingat akan shalat yang ketinggalan sesudah mulai melaksanakan shalat pada waktu itu.
Apabila shalat yang ketinggalan itu karena udzur, Imam yang tiga berpendapat bahwa meng-qadha wajib dengan segera juga. Imam Syafi’I berpendapat bahwa qadha wajib atas shalat yang ketinggalan.
Mungkin diantara dalil yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadis yang menerangkan tentang meng-qadha kaetika, sekalipun ketinggalan shalat tersebut karena udzur. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Nabi bersabda: “barang siapa lupa akan shalat, hendaknya segera melksanakannya apabila dia ingat, tidak ada gentian kecuali shalat itu sendiri.” Diriwayat lain disebutkan “ Apabila salah seorang kamu tidu sehingga meninggalkan shalat atau lupa, maka hendaknya dia segera shalat apabila ingat. Allah swt berfirman, yang artinya: “ Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Q.S. Thaha: 14)
Allah swt mengampuni kelalaian dan kelupaan umat Nabi saw dan sesuatu yang dipaksakan.
Para Imam mengecualikan tentang wajib menyegerakan shalat qadha-an apabila karena udzur seperti bekerja untuk mencari rezeki, menuntut ilmu yang wajib ‘ain, serta makan dan tidur.
Berdasarkan statement mereka tentang wajib melaksakanan qadha-an dengan segera, mereka berfatwa: diantara yang menolak meng-qadha shalat dengan segera adalah menyibukkan diri dengan melaksanakan shalat-shalat sunnah. Pandangan mereka pun berbeda-beda dalam masalah ini.
1)    Hanafiah berpendapat: menyibukkan diri dengan melaksanakan shalat-shalat sunnah tidak menolak shalat qadha-an dengan segera, tetapi yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan mengerjakan shalat qadha-an yang ketinggalan dan meninggalkan shalat sunnah kecuali shalat-shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tasbih, tahiyyatul mesjid, shalat sunnah 4 raka’at sebelum dzuhur dan 6 raka’at sesudah maghrib.
2)    Malikiah berpendapat: haram bagi orang yang mempunyai ketinggalan shalat melaksanakan shalat-shalat sunnah, kecuali shalat sunnah fajar, dhuha dan witir serta shalat sunnah hari raya, maka apabila mengerjakan shalat sunnah selain yang ini, seperti tarawih, maka dia mendapatkan pahala dari aspek shalat itu salah satu bentuk ketaatan terhadap agama, tetapi mendapatkan dosa dari aspek memperlambat qadha-an. Mereka mentoleran pada shalat sunnah yang singkat seperti tahiyyatul mesjid dan sunnah rawatib.
3)    Syafi’iah berpendapat: Haram bagi orang yang mempunyai ketinggalan shalat wajib – telah terdahulu disebutkan – menyibukkan diri melaksanakan shalat sunnah secara muthlaq, baik itu sunnah rawatib maupun yang lainnya sampai seluruh shalat yang ketinggalan sudah dilaksanakannya (di-qadha)
4)    Hanabilah berpendapat: haram bagi orang yang mempunyai ¬qadha-an shalat mengerjakan shalat sunnah secara muthlaq, jikalau dia shalat maka shalatnya tidak sah. Adapun shalat yang berkait, seperti shalat sunnah rawatib dan witir maka dia boleh melaksanakannya pada keadaaan ini, akan tetapi tidak melaksanakannya lebih utama…………………