Indonesia Belum Merdeka

Benarkah Indonesia sudah Merdeka? Menurut saya, Indonesia baru “Merdek”. Negara ini belum melengkapi “a” sebagai bentuk ekspresi kebebasan untuk bersuara lantang. Kemerdekaan di sini masih tersekat di kerongkongan. Mulut belum bisa dengan lepas meneriakkan “merdeka” dengan mulut terbuka. Ada banyak masalah yang menyumbat untuk bangsa ini bebas berteriak MERDEKA.
Hingga sekarang—64 tahun perayaan kemerdekaan—masih banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi mereka, “hidup sejahtera” seperti mimpi di siang bolong. Alih-alih untuk sejahtera, untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka seringkali tidak sanggup memenuhinya. Banyak dari mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Mereka terus bergelut dengan kemiskinan yang semakin menjadikan mereka golongan yang terpinggir di tengah pesatnya pembangunan.
Masih banyak dari mereka yang hidup di kolong-kolong jembatan. Banyak juga diantara mereka yang membangun rumah dari triplek di bantaran sungai. Pekerjaan mereka-pun seadanya asal bisa untuk menyumpal mulut dan mengisi perut. Ada yang menjadi pemulung sampah, menjadi pedagang  asongan juga pengamen jalanan. Ini belum terhitung pekerjaan di dunia hitam seperti judi, penjual narkoba hingga perampok.
Di jalanan, banyak kita temui anak-anak kecil yang dipekerjakan. Mereka dipaksa orang tua untuk mencari uang dengan meminta-minta. Mereka harus menengadahkan tangan ke setiap pengendara untuk meminta belas kasihan. Lantas, dimana peran pemerintah? Padahal UUD dengan tegas menyatakan bahwa, “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara”. Pemerintah seharusnya memfasilitasi mereka yang tidak mampu untuk mendapatkan haknya sebagaimana welfare state pada umumnya.
Di bidang pendidikan, masih banyak penduduk Indonesia yang belum mampu mengenyam pendidikan. Pendidikan sebagai cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa masih menjadi barang mewah. Jangankan pendidikan gratis, untuk mengupayakan pendidikan murah saja pemerintah belum mampu. Pemerintah tidak berhasil melaksanakan amanat UUD yang mensyaratkan 20 % APBN untuk alokasi pendidikan. Di Indonesia, pendidikan seolah hanya dinikmati oleh mereka yang mempunyai cukup harta.
Demikian pula dengan kesehatan. Jangankan untuk pengobatan gratis, untuk memfasilitasi rakyat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan berbiaya murah saja, pemerintah tidak mampu. Asuransi Kesehatan untuk Kaum Miskin (ASKESKIN) seringkali ditolak di rumah  akit pemerintah yang dibiayai oleh APBN maupun APBD. Belum lagi masalah subsidi yang seringkali salah alamat. Banyak orang miskin yang justru tidak menikmati bantuan pemerintah karena pat-gulipat oknum pejabat. Tak jarang, bantuan dari pusat disunat. Oh sungguh mengenaskan memang.
Miris memang jika kita membandingkannya dengan kehidupan mereka yang berkuasa. Mereka seolah hidup diatas menara gading. Hidup berlimpah dari uang pajak yang dibayarkan rakyat. Mereka hanya peduli dengan rakyat tatkala berjuang untuk memperebutkan kekuasaan. Sesudah berkuasa, mereka lupa dengan segala janji manis yang mereka ucapkan. Sebagai pejabat publik, mereka dibiayai oleh rakyat, namun kontribusi mereka terhadap rakyat sangat minim.
Parahnya lagi, meskipun fasilitas yang mereka miliki sudah lebih dari cukup, mereka tidak pernah puas. Golongan ini selalu menuntut kenaikan gaji tanpa memperdulikan kebutuhan negara. Kepentingan rakyat dinomor sekiankan asal kepentingan mereka terpenuhi. Tak jarang, banyak di antara pejabat publik ini kemudian menggunakan cara-cara tidak benar untuk menumpuk kekayaan. Mereka berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan dengan memanfaatkan jabatannya.
Terbukti, korupsi tumbuh subur di bumi pertiwi. Banyak uang negara yang seharusnya digunakan untuk memenuhi hajat hidup masyarakat digunakan untuk memperkaya diri sendiri dan golongan. Mereka yang mengenyam kue kekuasaan dengan leluasa melakukan segalanya. Mereka mempunyai previlage yang kemudian diselewengkan karena lemahnya kontrol. Rakyat bukan menjadi golongan yang mereka perhatikan.
Lantas, dimana kemerdekaan Indonesia? Apakah pembangunan yang cukup pesat dan hanya menjadikan rakyat sebagai objek yang terpinggirkan ini disebut merdeka? Apakah kemewahan di kalangan pejabat yang dibangun di atas kesengsaraan rakyat ini bisa dikatakan kemerdekaan?
Secara fisik. kita memang sudah merdeka, tapi belum  merdeka secara keseluruhan? Yang terjadi adalah saat ini ada beberapa Bank nasional yang saham mayoritasnya dibeli oleh asing. Perangkat elektronik hampir semuanya juga masih impor dari asing. Industri telekomunikasi mayoritas sahamnya juga dimiliki asing. Mulai dari Indosat, Telkomsel, XL, 3, Axis mayoritas milik perusahaan asing. Intinya, hampir semua bisnis yang strategis di negeri ini dikuasai oleh asing.
Mungkin kita perlu mencontoh bangsa lain seperti India yang cukup bangga atas produk dalam negerinya. Merekapun cukup diperhitungkan untuk urusan teknologi. Ahh, tapi ini adalah isu basi. Permasalahan yang sudah ada sejak lama.
Kita memang perlu menjadi bangsa yang mandiri. Mulai belajar tidak tergantung dengan bangsa lain. Kita juga perlu belajar dari negara Jepang yang masyarakatnya sangat keranjingan membaca. Menjadikan mereka sebagai bangsa yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi dengan beragam teknologi canggih yang dihasilkan. Tidak salah jika ada yang menyebut bahwa “Buku Adalah Jendela Dunia”. karena dari buku, lautan ilmu bisa kita selami.
Sayangnya, harga buku di tanah air masih tergolong mahal. Banyak yang menjadikan buku sebagai prioritas  paling akhir setelah beras, minyak, pakaian, bensin dan sebagainya yang merupakan kebutuhan Primer. Padahal buku sejatinya adalah makanan, makanan otak dan hati. Seharusnya dimasukkan juga dalam kebutuhan primer, tapi apa daya.
Saya semakin yakin, bahwa negara ini belum merdeka. Masih banyak ketimpangan yang ada di depan mata kita. MERDEKA hanya bisa diteriakkan dengan lantang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan. Rakyat hanya bisa teriak “MERDEK” karena tercekat dan terjepit dengan kepongahan penguasa.rakyat miskin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: